// // Leave a Comment

Parameter Yang Penting Dalam Power Monitoring

Penggunaan power meter kini menjadi fasilitas untuk memonitor berbagai parameter kelistrikan. Pembahasan kali ini kita akan bahas berbagai macam parameter yang penting diketahui oleh banyak teknisi maupun engineering.

Sebagai ahli kelistrikan dalam industri tentunya kita dituntut untuk bisa melayani hingga memperbaiki berbagai kendala dan masalah (gangguan). Gangguan dalam kelistrikan menjadi penyebab utama terjadinya kebakaran dikarenakan kurangnya pengetahuan dari si pelaku atau operator kelistrikan. Tentunya pihak manajemen tidak ingin ada satupun peralatannya yang rusak sehingga kita menghindari permasalahan dengan manajemen.
Ada beberapa parameter pengukuran yang perlu kita ketahui, yaitu sebagai berikut :

1) Tegangan
Parameter ini menjadi parameter utama dari semua parameter karena tidak akan ada semua parameter pengukuran kecuali tegangan. Pengecekan tegangan ini kita perlukan untuk mengetahui seberapa besar tegangan jatuhnya dan berapa nominal tegangan pada saat beban dinyalakan. Dikarenakan nominal tegangan tidak boleh melebihi dan kurang dari nominal tegangan yang dibutuhkan pada banyak peralatan listrik (beban). Jika kelebihan atau kekurangan akan menyebabkan peralatan cepat panas dan mengakibatkan terbakar atau rusaknya peralatan. Tegangan yang didistribusikan haruslah memenuhi syarat tegangan kerja berbagai peralatan. Monitor tegangan ini akan jadi acuan kita seberapa besar jatuh tegangan (Drop Voltage) pada distribusi dari sumber tegangan menuju ke masing-masing peralatan (beban).


2) Arus
Parameter ini sangat penting untuk menentukan banyak hal, beberapa diantaranya seperti kita ingin menentukan kapasitas circuit breaker (Pemutus Tenaga). Dengan parameter ini kita bisa melihat berbagai perubahan konstruksi beban dari waktu ke waktu. Seiring bertambahnya majunya sebuah usaha, maka akan terjadi pula penambahan beban. Parameter arus inilah yang akan menentukan apa yang harus dilakukan. Semisal sebuah perusahaan menambah plant baru, maka bebannya akan bertambah, otomatis kapasitas kuat hantar arus seperti dari berbagai peralatan distribusi jaringan seperti trafo distribusi, kabel power, circuit breaker (ACB, MCCB, MCB, dll) akan dipertimbangkan apakah harus upgrade atau tidaknya.


3) Daya Aktif, Daya Reaktif, dan Daya Semu
Ketiga daya ini dikenal sebagai SEGITIGA DAYA, karena ketiga daya ini saling berkaitan satu sama lain. Daya aktif adalah daya sebenarnya yang dibutuhkan beban. Daya reaktif adalah daya yang dibutuhkan untuk membangkitkan medan magnet pada beban jenis induktif. Sedangkan Daya Semu adalah daya keseluruhan yang digunakan atau bisa dikatakan sebagai kalkulasi antara daya aktif dan daya reaktif dengan perhitungan secara phytagoras. Parameter ini sangat penting untuk mengetahui daya terpakai pada jaringan distribusi yang digunakan. Parameter ini juga menjadi penentu naik atau turunnya arus. Jika nominal daya aktif sama dengan nominal daya semu, maka daya reaktif akan menjadi nol, atau mendekati nol. Tetapi jika nominal daya aktif tidak sama dengan daya semu, maka arusnya akan besar. Semakin daya semu mendekati atau sama dengan daya aktif, maka daya reaktif akan mendekati atau sama dengan nol. Ketiga parameter ini akan menjadi penentuan dalam menentukan cos phi.


4) Harmonisa Arus
Harmonisa arus adalah gangguan arus tercemar yang terjadi akibat beban non linear atau beban yang menyebabkan munculnya kebutuhan kompensasi frekuensi diatas frekuensi fundamental. Frekuensi fundamental yang dimaksud adalah frekuensi umum yang digunakan yaitu 50Hz atau 60Hz. Harmonisa arus menjadi salah satu pemicu memanasnya sebuah peralatan, dikarenakan harmonisa arus selalu mencari beban dengan impedansi yang lebih kecil.


5) Harmonisa Tegangan
Harmonisa tegangan adalah ganggua tegangan yang tercemar yang terjadi dari sumber tegangan. Harmonisa tegangan ini berasal dari trafo distribusi dari gardu induk hingga ke berbagai pengguna listrik.


6) Cos phi
Cos phi menjadi salah satu parameter penting dikarenakan cos phi berkaitan erat dengan segitiga saya. Cos phi adalah hasil kalkulasi antara daya aktif dengan daya semu. Besar kecilnya cos phi akan menentukan naik atau turunnya penggunaan daya semu dan arus (ampere). Cos phi yang ditentukan PLN agar terbebas dari denda reaktif adalah 0,86. Akan lebih bagus jika memiliki cos phi memiliki nilai satu, dikarenakan memperkecil penggunaan arus dan daya semu sehingga semakin mengurangi penggunaan energi per bulannya. Cos yang jelek bisa diperbaiki dengan memasang panel yang biasa disebut kapasitor bank.


7) Frekuensi
Parameter ini tidak terlalu dominan untuk dimonitor pada jaringan distribusi satu sumber tegangan. Namun frekuensi akan menjadi penting diperhatikan untuk jaringan distribusi listrik dengan sinkron 2 sumber tegangan. Umumnya frekuensi yang digunakan di Indonesia adalah 50Hz.

0 komentar:

Posting Komentar